Minggu, 04 September 2011

Kebangkitan Yesus


Arti Penting Kebangkitan Kristus


Semua agama, kecuali 4 agama besar, berdasar kepada filsafat. Dari 4 agama besar yang berdasar kepada kepribadian pendirinya, hanya agama Kristen yang menyatakan kubur kosong bagi pendirinya.

Tanpa kebangkitan, iman Kristen tidak mungkin muncul. Murid-murid-Nya hanyalah simbol kekalahan dan kehancuran. Mungkin mereka akan mengingat Yesus sebagai guru terkasih mereka, dan penyaliban hanya akan melenyapkan harapan akan mesias. Salib akan kelihatan menyedihkan dan memalukan sebagai akhir karir Yesus.
Kekristenan mula-mula sangat bergantung kepada kepercayaan murid-murid-Nya bahwa Tuhan telah membangkitkan Yesus dari kematian.

Jika ditanya mengapa kebangkitan Yesus Kristus disebut sebagai bukti diri-Nya adalah Anak Allah?
Jawabnya:

1.  Dia bangkit dengan kuasa-Nya sendiri. Dia mempunyai kuasa untuk memberikan nyawa-Nya dan untuk mengambilnya kembali (Yohanes 10:18). Ini tidak bertentangan dengan pasal lain yang menyatakan Yesus dibangkitkan oleh kuasa Bapa, karena Bapa dan Anak bekerja bersama-sama, seperti halnya penciptaan, tiga pribadi Allah, yaitu: Bapa, Anak dan Roh Kudus bekerja sama secara harmonis.

2. Secara jelas Yesus telah menyatakan bahwa Ia adalah Anak Allah, kebangkitan-Nya dari kematian merupakan materai/persetujuan dari Allah Bapa akan kebenaran pernyataan-Nya. Jika Allah tidak menyetujui pernyataan Yesus sebagai Anak Allah, maka Allah tidak akan membangkitkan Yesus dari kematian.
Kenyataannya Allah membangkitkan Yesus dari kematian, seolah Allah Bapa mengatakan: "Engkaulah Anak-Ku, hari ini Aku menegaskan sejelas-jelasnya."

Khotbah Petrus saat hari Pentakosta juga berdasar kepada Kebangkitan Kristus (Kisah Para Rasul 2:14-40). Tidak sekedar tema khotbah, tetapi menekankan pentingnya kebangkitan. Kalau ajaran kebangkitan dihilangkan, maka semua ajaran kekristenan akan hilang.

Kebangkitan merupakan:
1. Penjelasan kematian Yesus
2. Penggenapan nubuat dalam Perjanjian Lama tentang Mesias
3. Sumber kesaksian murid-murid
4. Alasan pencurahan Roh Kudus
5. Menegaskan posisi Yesus sebagai Mesias dan Raja.

Tanpa kebangkitan, posisi Yesus sebagai Mesias dan Raja tidak akan terjelaskan.
Tanpa kebangkitan, pencurahan Roh Kudus akan meninggalkan misteri yang tidak dapat dijelaskan.
Tanpa kebangkitan, sumber kesaksian murid-murid hilang.

Kebangkitan adalah penggenapan dari nubuat mengenai Mesias yang akan bangkit di dalam Mazmur 16:10, 'tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.'

Jelaslah bahwa khotbah pertama kekristenan berdasar kepada Yesus yang telah bangkit.

Perjanjian Baru bergaung kepada  fakta Kebangkitan Yesus. Injil-injil mencatat  pernyataan Yesus bahwa Ia akan dikhianati, dibunuh dan bangkit lagi. Mereka menyaksikan  bahwa kubur telah kosong dan Ia menampakkan diri kepada murid-murid-Nya seperti yang telah dikatakan-Nya.

Kisah Para Rasul mencatat Kebangkitan Kristus sebagai fakta dan membuatnya menjadi pusat pengajaran.

Surat-surat dalam Perjanjian Baru dan Kitab Wahyu menjadi tak berarti tanpa kebangkitan Yesus.

Kebangkitan diterima baik oleh:
- Keempat Injil yang terpisah
- Sejarah kekristenan mula-mula (Kisah Para Rasul)
- Surat-surat: Paulus, Petrus, Yohanes, Yudas, dan Surat Ibrani.

Ada banyak kesaksian yang dapat dipercaya. Dan karena Perjanjian Baru adalah kesaksian sejarah yang dapat dipercaya, maka Kebangkitan Kristus adalah fakta obyektif yang dapat dipercaya.

Sejak awal, kekristenan mula-mula secara bersama-sama memberikan kesaksian mengenai kebangkitan Kristus. Ini merupakan dasar pengajaran dan iman gereja dan telah masuk ke dalam literatur Perjanjian Baru. Jika semua pasal yang berhubungan dengan Kebangkitan dihilangkan, maka akan didapatkan Perjanjian Baru yang kacau, yang tidak dapat dijelaskan. Kebangkitan secara kuat masuk ke dalam kehidupan orang Kristen mula-mula. Ini muncul dalam kubur, lukisan-lukisan dinding, muncul dalam himne, dan menjadi tema yang kuat dalam penulisan-penulisan pembelaan iman Kristen pada empat abad pertama.

Jika kebangkitan bukan peristiwa sejarah, maka kuasa kematian tetap tidak dikalahkan; Kematian Kristus menjadi tidak ada artinya, dan umat yang percaya kepada-Nya tetap mati dalam dosa. Keadaannya akan tidak berbeda dengan sebelum mendengar nama-Nya.

Sulit untuk menggambarkan  depresi yang hebat akibat penyaliban Yesus yang  dialami para murid. Mereka tidak memiliki konsep bahwa kebangkitan lebih berarti daripada kematian. Mereka berpikir bahwa Mesias akan memerintah selamanya (Yohanes 12:34). Tanpa percaya kepada kebangkitan Yesus, tidak mungkin para murid percaya kepada Yesus yang hanya mati saja.

Kebangkitan mengubah bencana menjadi kemenangan. Karena Tuhan telah membangkitkan Yesus, maka Yesus secara tegas dinyatakan sebagai Mesias.  Dengan demikian makna penyaliban, oleh karena kebangkitan, kematian yang memalukan itu berubah menjadi kematian yang berperan dalam penyelamatan umat manusia.

Tanpa kebangkitan, maka kematian Yesus hanyalah kutukan Tuhan, tetapi dengan kebangkitan, maka kematian Yesus sekarang dilihat sebagai suatu peristiwa dimana pengampunan dosa umat manusia sudah terjadi.

Tanpa kebangkitan, kekristenan tidak pernah terjadi, para murid hanya melihat Yesus sebagai guru yang baik dan tidak akan pernah percaya bahwa Yesus adalah mesias.

Kebangkitan adalah fakta penting, karena kebangkitan menggenapkan keselamatan kita. Yesus datang untuk menyelamatkan kita dari dosa, dan sebagai akibatnya menyelamatkan kita dari kematian.

Kebangkitan juga membuat perbedaan yang tajam antara Yesus dengan semua pendiri agama. Tulang-tulang dari semua pendiri agama, selain Yesus, masih berada di bumi, tetapi kubur Yesus kosong.

Dampak dari kebangkitan, besar. Hidup menjadi memiliki harapan, kehidupan lebih berkuasa daripada kematian, kehidupan pada akhirnya menang.
Tuhan telah menyentuh kita di sini, Tuhan telah mengalahkan kematian, musuh terakhir kita.

Kebangkitan telah mengubah  hidup para murid sebelum dan sesudah kebangkitan. Sebelum melihat kebangkitan, mereka lari, menyangkal Gurunya. Mereka berkumpul dan bersembunyi dalam ketakutan dan kebingungan. Setelah melihat kebangkitan, mereka diubah dari ketakutan menjadi rasul yang berani dan percaya diri, menjadi penginjil yang mempengaruhi dunia, bersedia mati martir dan bersukacita sebagai utusan Kristus.

Kepada siapakah Saudara mempercayakan hidupmu? Apakah yang engkau percayai mempunyai kuasa kebangkitan? Apakah yang engkau percayai mempunyai kuasa terhadap kematian?

Jika engkau belum mempercayai Yesus, percayakan hidupmu sekarang juga kepada Yesus yang telah bangkit dan mengalahkan kuasa kematian.
Jika engkau mau percaya kepada Yesus, kematian bukan hal yang menakutkan Saudara lagi dan kebangkitan maupun hidup yang kekal akan Saudara terima. Maukah Saudara?

Sumber:
Josh McDowell, The New Evidence that Demands a Verdict, Thomas Nelson Publish

Sabtu, 27 Agustus 2011


KESAKSIAN KRISTUS UNTUK FIRMAN TUHAN


KESAKSIAN KRISTUS UNTUK FIRMAN TUHAN
(Witness of Christ to the Word)

Oleh Dr. W.A. Criswell
Diadaptasi oleh Dr. Eddy Peter Purwanto

“Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.” (Lukas 24:25-26)

Dalam ayat 44: “Yesus berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat." Ini adalah bagian pertama yang agung dari Alkitab bahasa Ibrani Perjanjian Lama. Penggenapan dari segala sesuatu tertulis dalam Torah, hukum Musa.  “Dan dalam kitab nabi-nabi” (nebi-im). Itu adalah bagian kedua yang agung dari Alkitab orang Ibrani. “Dan kitab Mazmur.” Bagian ketiga yang agung dari Alkitab orang Ibrani atau Perjanjian Lama ini adalah kethubim, atau dalam orang Yunani Hagiographa. Dan dalam bahasa Inggris, “the Writings.” Dan nomer satu dari bagian kethubim ini adalah kitab Mazmur. Sehingga Ia menggunakan kata “Mazmur” untuk mengacu kepada keseluruhan kethubim. 
“Yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Torah, dalam nebi-im, dalam kethubim.”  “Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci” (Lukas 24:45).
Sikap dan kesaksian Kristus terhadap Firman Allah ditegaskan kepada kita semua yang memandang Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Penghargaan orang Yahudi Orthodoks terhadap Kitab Suci Perjanjian Lama adalah salah satu dari banyak pemandangan yang indah dan memberikan semangat yang pernah Anda lihat.


PENGHORMATAN ORANG YAHUDI TERHADAP PERJANJIAN LAMA

Saya pernah berada di Yerusalem untuk waktu yang singkat setelah perang tahun 1948 yang menyebabkan terciptanya negara Israel modern, dan mereka telah menaklukkan Bukit Zion, yang di puncaknya adalah lokasi di mana secara tradisional terdapat kuburan Raja Daud. Dan mereka memugar kuburan itu, dan membangun sinagoge di situ.  Tempat itu dipenuhi para peziarah dan dijadikan tempat untuk berdoa, terutama bagi para rabi Orthodoks. Dan setelah membaca Torah, Hukum Musa, mereka menciumi gulungan kitab itu. Kemudian mereka menciumi jumbai gulungannya. Dan selanjutnya mereka menciumi sarung atau pembungkus gulungan yang indah itu dan meletakkannya dengan lemah lembut dan hati-hati. Kemudian dengan penuh hormat mereka meletakkan itu ke atas tabut. Seperti yang pernah saya lihat pada orang-orang Yahudi dan para rabi, mereka sangat menghargai dan mengasihi Alkitab Perjanjian Lama.
Alkitab yang Yesus kasihi adalah Kitab Suci Perjanjian Lama kita, kitab demi kitab, kata demi kata. Dan kasih yang Ia miliki untuk Kitab ini adalah kasih yang kita abadikan dalam hati kita, terhadap Kitab yang sama, dan Firman yang sama. 
Jemaat saya telah mengenal saya bertahun-tahun dan mereka tahu bahwa saya adalah orang yang begitu memperhatikan dan mempertahankan Firman Allah yang tidak akan gagal (infallibility) dan tanpa salah (inerrancy). Beberapa jemaat kami setelah lima tahun akan memiliki pandangan yang persis sama dengan saya yang menggembalakan jemaat itu. Mereka merefleksikan persuasi dan konviksinya. Sehingga  jemaat ini telah mendengar khotbah dari gembalanya sampai hari ini sudah tiga puluh tujuh tahun (di sini Dr. W.A. Criswell berbicara pada tanggal 16 November 1980) jadi jemaat ini seharusnya sudah menjadi begitu hormat dan mengasihi Firman Allah.
Ketika Anda melihat dunia Kekristenan lebih luas, dan khususnya apa yang diekspresikan dalam kalangan akademisi mereka, dunia teologi pernah terperosok begitu dalam ke dalam skeptisme berhubungan denganinfallibility dan inspirasi Firman Allah. Dan sebaliknya, sikap yang ditunjukkan Tuhan kita menentang pemikir-pemikir modern ini, yaitu komunitas teologi arus utama ini. Kita telah melihat cara Tuhan memandang Alkitab berbeda dengan apa yang mereka katakan dan cara mereka memandang Alkitab. 


YESUS DAN PENGHARGAANNYA TERHADAP ALKITAB

Sebagai contoh, bagi mereka (yaitu komunitas akademik dari teologi liberal, dan dengan cara itulah saya menjelaskan praktek di kebanyakan kalangan Kekristenan saat ini) bagi mereka, Adam dan Hawa adalah tokoh mitologi belaka. Mereka [Adam dan Hawa] itu tidak nyata. Tidak pernah benar-benar ada apa yang dinamakan dengan Taman Eden itu. Karena kebanyakan dari mereka lebih tertarik dengan penjelasan teologi Darwin tentang dari mana kita berasal. Ras kita ini merupakan hasil pertumbuhan dari lumpur primordial, dan nenek moyang kita adalah chimpanzee, orang hutan, manusia kera dan monyet.
Bertentangan dengan pendirian teologi ini, Tuhan Yesus, dalam Injil Matius pasal sembilan belas, akan mendasarkan dasar rumah tangga, dasar pernikahan, dan dasar keluarga di atas Adam dan Hawa, yaitu bahwa Allah telah menjadikan satu laki-laki untuk satu perempuan, Adam untuk Hawa, dan Hawa untuk Adam, dan bahwa ia (Hawa) diambil dari tulang rusuk Adam, dan daging dari dagingnya, dan tulang dari tulangnya. Dan itu adalah dasar dari tujuan Allah, yang adalah dasar dari stabilitas pernikahan dan rumah tangga. Itu lah Tuhan. Dan itu adalah sikap Tuhan terhadap Alkitab.
Lihat kembali. Bagi semua komunitas akademisi liberal – dan seperti saya katakan, saya sedang berbicara tentang apa yang dipraktekkan dalam kebanyakan kalangan Kekristenan – Kitab Ulangan, kitab kelima dari Kitab Musa (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan) bagi seluruh komunitas akademisi liberal, Kitab Ulangan adalah palsu. Ini ditulis untuk bangsa Yahudi pada zaman Raja Yosia seribu tahun setelah Musa yang dianggap telah menulisnya. Itulah sikap komunitas akademisi.  
Tetapi Tuhan Yesus, Ia mengutip Kitab Ulangan lebih banyak dari pada kitab-kitab lain di dalam Alkitab dan mengatakan bahwa itu adalah tulisan Musa. Itu lah kesaksian Yesus.
Lihat kembali. Tidak ada teolog liberal di dunia ini yang percaya keotentikan Kitab Daniel. Bagi mereka, ini adalah dokumen yang palsu dan tidak ditulis seperti yang telah diakui ditulis pada tahun 600 SM, tetapi menurut mereka sebenarnya kitab ini ditulis pada tahun 165 SM. Dan semua nubuatan agung dalam Kitab Daniel pada kenyataannya lebih berhubungan dengan penulisan kembali sejarah walaupun kitab itu adalah kitab nubuatan. Seluruh akademisi, dunia liberal, tanpa terkecuali, percaya bahwa Kitab Daniel adalah dokumen gadungan dan palsu.
Tetapi Tuhan Yesus, dalam Injil Matius 24 akan berbicara tentang Daniel sebagai seorang nabi, nabi besar yang menyampaikan apa yang Allah nyatakan tentang kesudahan zaman yang akan datang. Itu cara Yesus memandang Alkitab.
Lagi. Saya tidak yakin jika ada teolog liberal di dunia yang tidak mengejek dan mentertawakan ide bahwa Yunus pernah ditelan ikan besar. Bagi mereka ini hanyalah lelucon. Dan ketika Anda membaca tulisan-tulisan mereka, fakta seperti itu dapat merusak pikiran yang masih lemah dan belum dewasa imannya.  
Tetapi bagi Tuhan Yesus, seperti yang tertulis dalam Injil Matius 12, Ia mendasarkan fakta kebangkitan-Nya yang agung di atas keluarnya Yunus dari perut ikan paus. Itulah cara Tuhan Yesus menghargai Alkitab.
Saya ingat suatu kali, saya duduk mendengarkan khotbah Lee Scarborough, Rektor Southwestern Seminary dan dia adalah salah satu hamba Allah yang luar biasa. Dan ia pernah berbicara tentang kisah Yunus. Dan ia berkata suatu kali anak lelakinya yang masih kecil pulang dari sekolah Minggu dan berkata, “Ayah, saya telah mendengarkan sebuah cerita di Sekolah Minggu pagi ini yang saya belum bisa percaya.”
Dr. Scarborough berkata, “Baiklah, nak, apa itu?”
Dan anak kecil itu berkata, “Yah, cerita tentang seseorang yang bernama Yunus, dan bahwa ia ditelan oleh ikan besar, dan bahwa ia hidup di dalam perut ikan besar itu selama tiga hari, dan kemudian ikan itu memuntahkannya keluar, dan ia masih hidup. Dan saya tidak bisa percaya hal seperti itu.”
Sehingga sang ayah itu, Dr. Scarborough, memanggil anak itu untuk duduk di sampingnya dan berkata, “Baiklah, nak, marilah ke sini, duduk di sini, kita akan pelejari bersama, karena saya juga memiliki kesulitan dengan cerita Yunus.
Kemudian mereka duduk bersama dan pengkhotbah besar itu berkata kepada anaknya itu, “Sekarang, kamu katakan, apa sebenarnya masalahmu?”
Dan si anak itu berkata, “Yah, Ayah, saya tidak bisa percaya hal seperti itu, bahwa ikan besar itu menelan orang yang bernama Yunus, dan ia hidup di dalam perut ikan itu selama tiga hari, dan kemudian ikan itu memuntahkannya dan orang itu masih hidup. Saya tidak bisa mempercayainya.”
Dan pengkhotbah besar itu berkata, “Baiklah, nak, saya juga memiliki masalah yang sama dengan cerita ini, hanya saja masalah saya sedikit berbeda dengan masalah kamu. Apa yang saya tidak dapat mengerti adalah bagaimana Tuhan dapat menciptakan manusia itu. Saya tidak mengerti itu. Dan saya tidak mengerti bagaimana Tuhan bisa menciptakan ikan besar itu. Saya tidak dapat memahami itu. Jika saya dapat memahami bagaimana kok Allah bisa menciptakan manusia dan ikan besar itu, maka akan menjadi lebih mudah bagi saya untuk memahami bagaimana Ia dapat mempertemukan mereka.”
Bagi Yesus, mujizat Allah yang luar biasa itu adalah sesuatu yang sewajarnya dan ketika Anda melihat sekeliling Anda, jika Anda mau melihat dengan pikiran tidak memihak, Allah menandai nama-Nya pada segala sesuatu bahwa Ia melakukan: “mujizat, hal-hal supranatural, hal-hal yang tak dapat dijelaskan.” Kita tidak mengerti apapun atau kita tidak dapat menjelaskan apapun.  Kita hanya mengobservasinya dan heran. Dan jika Anda berpikir bahwa Anda orang Kristen, tunduklah dalam hadirat sang Pencipta yang agung dan pujilah nama-Nya, itulah Yesus.
Lihat kembali sikap Tuhan kita terhadap Firman Allah ketika Ia berkata, “Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota (ini adalah huruf yod) atau satu title pun (ini adalah tanduk pada huruf ‘t’, tetalphabet Ibrani), “tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.”  (Matius 5:18).
Ini adalah pernyataan yang sangat mengejutkan! Langit dan bumi ini mungkin saja lenyap, hancur, terbakar, namun Firman Allah akan tetap ada untuk selama-lamanya. Ini lah alasan saya mengapa menyukai ayat favorit saya ini: “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.” Itulah cara Tuhan Yesus memandang Alkitab.


YESUS BERKHOTBAH DARI ALKITAB

Pandanglah Tuhan kita kembali, dalam sikap-Nya, dalam cinta-Nya terhadap Firman Allah. Ia datang untuk berkhotbah. Jika saya dapat mengutip Injil Markus, Ia datang berkhotbah dengan Alkitab di tangan-Nya. Dalam perikop yang indah yang Anda baru baca, Ia memulai pelayanan Mesianik-Nya di sana di Nazaret di tempat di mana Ia tumbuh besar, seperti kebiasaan-Nya, Ia pergi ke sinagog. Dan kelihatannya, seperti kebiasaan-Nya, Ia menyampaikan kepada mereka berita dari Tuhan.
Tidak akan senangkah Anda bila berada di gereja pada waktu itu, memuji Tuhan, dan mendengarkan pengkhotbah yang adalah Yesus dari Nazareth? Dan Ia membuka gulungan kitab Yesaya 61:1-2, dan kemudian Ia mengkhotbahkannya kepada orang-orang yang ada di sana dengan Alkitab di tangan-Nya. Itulah Yesus. 
Dan ketika Ia menyampaikan khotbahnya Ia membuat aplikasi khotbah itu tentang bagaimana Allah menyembuhkan para tawanan dan hati yang terluka, Ia berbicara tentang kasih Tuhan untuk seluruh dunia. Itu adalah Anda, kita semua.
Dan Ia memberikan ilustrasi dari Alkitab di zaman Elia dan bencana kelaparan yang mengerikan. Ia mengutusnya ke Sarfat, kepada janda di Sidon, kepada penyembah berhala. Dan Ia memberikan ilustrasi lagi. Pada zaman Elisa, Naaman, orang Syria, penyembah berhala yang mengalami sakit kusta. Itulah cara Yesus menyampaikan Firman.
Dalam Matius 12, Ia berbicara tentang Ratu Syeba yang datang untuk melihat hikmat Salomo. Dan kemudian mengimplikasikan, “Ada yang lebih besar dari Salomo di sini.” 
Dalam Yohanes 3:14-15, Ia menggunakan kisah yang indah tentang ular yang ditinggikan di padang gurun, sehingga orang yang digigit dan sekarat dapat melihat ular yang ditinggikan itu dan menjadi sembuh dan hidup. Dan Ia berkata, “Demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Tak ada sedikitpun syarat kecuali hanya percaya dan kemudian beroleh hidup. Cara ini sangatlah sederhana bagi orang yang mau meresponinya.
Atau dalam Injil Yohanes 6: Ia adalah manna, makanan dari sorga, yang diturunkan dari sorga agar kita boleh memakannya dan hidup.  “Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun. Aku adalah manna itu, orang yang memakannya tidak akan pernah mati.” Itulah Yesus ketika menyampaikan Firman Allah.
Secara terus menerus Ia menggunakan Alkitab untuk memberikan peringatan. Dalam Lukas 10, ini berhubungan dengan Sodom dan Gomorah, kota-kota di lembah itu dan Tirus dan Sidon yang dihakimi oleh Tuhan Allah. Dalam Injil Lukas 17, Ia mengingatkan tentang Nuh dan penghukuman Allah pada zaman Air Bah. Ia juga mengingatkan tentang Lot, ketika kota-kota di lembah itu dihanguskan dengan api. Itulah cara Tuhan menyampaikan Firman. Alkitab.
Dan Ia menggunakan Firman Allah sebagai senjata dalam menghadapi serangan Setan dan para pemimpin Bait Allah yang sinis terhadap Dia dan yang sangat membenci Dia.
Firman Tuhan adalah senjata-Nya untuk menyerang dan bertahan (lihat Markus 12). Markus 12 mulai dengan kisah tentang para penggarap kebun anggur yang jahat yang ketika pemilik kebun anggur mengirim hamba-hambanya untuk mengambil uang sewa: Namun mereka memukuli hamba-hamba itu dan membunuh mereka. Kemudian pemilik kebun anggur ini mengirim anaknya. “Mereka mungkin akan menghormati anaknya.” Ternyata mereka juga membunuh dan melemparkannya keluar dari kebun itu.
Catatan Editor: Demikianlah dengan jelas Yesus memberi kesaksian bahwa Alkitab Firman Allah. Dan Ia bukan hanya memberi kesaksian itu, namun Ia juga sangat menghargai Firman Allah dan selalu menggunakan Firman Allah yang menjadi dasar pengajaran-Nya dan dasar untuk menyerang serta melawan para pengritik Firman Allah.

KESAKSIAN KRISTUS UNTUK FIRMAN TUHAN


KESAKSIAN KRISTUS UNTUK FIRMAN TUHAN
(Witness of Christ to the Word)

Oleh Dr. W.A. Criswell
Diadaptasi oleh Dr. Eddy Peter Purwanto

“Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.” (Lukas 24:25-26)

Dalam ayat 44: “Yesus berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat." Ini adalah bagian pertama yang agung dari Alkitab bahasa Ibrani Perjanjian Lama. Penggenapan dari segala sesuatu tertulis dalam Torah, hukum Musa.  “Dan dalam kitab nabi-nabi” (nebi-im). Itu adalah bagian kedua yang agung dari Alkitab orang Ibrani. “Dan kitab Mazmur.” Bagian ketiga yang agung dari Alkitab orang Ibrani atau Perjanjian Lama ini adalah kethubim, atau dalam orang Yunani Hagiographa. Dan dalam bahasa Inggris, “the Writings.” Dan nomer satu dari bagian kethubim ini adalah kitab Mazmur. Sehingga Ia menggunakan kata “Mazmur” untuk mengacu kepada keseluruhan kethubim. 
“Yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Torah, dalam nebi-im, dalam kethubim.”  “Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci” (Lukas 24:45).
Sikap dan kesaksian Kristus terhadap Firman Allah ditegaskan kepada kita semua yang memandang Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Penghargaan orang Yahudi Orthodoks terhadap Kitab Suci Perjanjian Lama adalah salah satu dari banyak pemandangan yang indah dan memberikan semangat yang pernah Anda lihat.


PENGHORMATAN ORANG YAHUDI TERHADAP PERJANJIAN LAMA

Saya pernah berada di Yerusalem untuk waktu yang singkat setelah perang tahun 1948 yang menyebabkan terciptanya negara Israel modern, dan mereka telah menaklukkan Bukit Zion, yang di puncaknya adalah lokasi di mana secara tradisional terdapat kuburan Raja Daud. Dan mereka memugar kuburan itu, dan membangun sinagoge di situ.  Tempat itu dipenuhi para peziarah dan dijadikan tempat untuk berdoa, terutama bagi para rabi Orthodoks. Dan setelah membaca Torah, Hukum Musa, mereka menciumi gulungan kitab itu. Kemudian mereka menciumi jumbai gulungannya. Dan selanjutnya mereka menciumi sarung atau pembungkus gulungan yang indah itu dan meletakkannya dengan lemah lembut dan hati-hati. Kemudian dengan penuh hormat mereka meletakkan itu ke atas tabut. Seperti yang pernah saya lihat pada orang-orang Yahudi dan para rabi, mereka sangat menghargai dan mengasihi Alkitab Perjanjian Lama.
Alkitab yang Yesus kasihi adalah Kitab Suci Perjanjian Lama kita, kitab demi kitab, kata demi kata. Dan kasih yang Ia miliki untuk Kitab ini adalah kasih yang kita abadikan dalam hati kita, terhadap Kitab yang sama, dan Firman yang sama. 
Jemaat saya telah mengenal saya bertahun-tahun dan mereka tahu bahwa saya adalah orang yang begitu memperhatikan dan mempertahankan Firman Allah yang tidak akan gagal (infallibility) dan tanpa salah (inerrancy). Beberapa jemaat kami setelah lima tahun akan memiliki pandangan yang persis sama dengan saya yang menggembalakan jemaat itu. Mereka merefleksikan persuasi dan konviksinya. Sehingga  jemaat ini telah mendengar khotbah dari gembalanya sampai hari ini sudah tiga puluh tujuh tahun (di sini Dr. W.A. Criswell berbicara pada tanggal 16 November 1980) jadi jemaat ini seharusnya sudah menjadi begitu hormat dan mengasihi Firman Allah.
Ketika Anda melihat dunia Kekristenan lebih luas, dan khususnya apa yang diekspresikan dalam kalangan akademisi mereka, dunia teologi pernah terperosok begitu dalam ke dalam skeptisme berhubungan denganinfallibility dan inspirasi Firman Allah. Dan sebaliknya, sikap yang ditunjukkan Tuhan kita menentang pemikir-pemikir modern ini, yaitu komunitas teologi arus utama ini. Kita telah melihat cara Tuhan memandang Alkitab berbeda dengan apa yang mereka katakan dan cara mereka memandang Alkitab. 


YESUS DAN PENGHARGAANNYA TERHADAP ALKITAB

Sebagai contoh, bagi mereka (yaitu komunitas akademik dari teologi liberal, dan dengan cara itulah saya menjelaskan praktek di kebanyakan kalangan Kekristenan saat ini) bagi mereka, Adam dan Hawa adalah tokoh mitologi belaka. Mereka [Adam dan Hawa] itu tidak nyata. Tidak pernah benar-benar ada apa yang dinamakan dengan Taman Eden itu. Karena kebanyakan dari mereka lebih tertarik dengan penjelasan teologi Darwin tentang dari mana kita berasal. Ras kita ini merupakan hasil pertumbuhan dari lumpur primordial, dan nenek moyang kita adalah chimpanzee, orang hutan, manusia kera dan monyet.
Bertentangan dengan pendirian teologi ini, Tuhan Yesus, dalam Injil Matius pasal sembilan belas, akan mendasarkan dasar rumah tangga, dasar pernikahan, dan dasar keluarga di atas Adam dan Hawa, yaitu bahwa Allah telah menjadikan satu laki-laki untuk satu perempuan, Adam untuk Hawa, dan Hawa untuk Adam, dan bahwa ia (Hawa) diambil dari tulang rusuk Adam, dan daging dari dagingnya, dan tulang dari tulangnya. Dan itu adalah dasar dari tujuan Allah, yang adalah dasar dari stabilitas pernikahan dan rumah tangga. Itu lah Tuhan. Dan itu adalah sikap Tuhan terhadap Alkitab.
Lihat kembali. Bagi semua komunitas akademisi liberal – dan seperti saya katakan, saya sedang berbicara tentang apa yang dipraktekkan dalam kebanyakan kalangan Kekristenan – Kitab Ulangan, kitab kelima dari Kitab Musa (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan) bagi seluruh komunitas akademisi liberal, Kitab Ulangan adalah palsu. Ini ditulis untuk bangsa Yahudi pada zaman Raja Yosia seribu tahun setelah Musa yang dianggap telah menulisnya. Itulah sikap komunitas akademisi.  
Tetapi Tuhan Yesus, Ia mengutip Kitab Ulangan lebih banyak dari pada kitab-kitab lain di dalam Alkitab dan mengatakan bahwa itu adalah tulisan Musa. Itu lah kesaksian Yesus.
Lihat kembali. Tidak ada teolog liberal di dunia ini yang percaya keotentikan Kitab Daniel. Bagi mereka, ini adalah dokumen yang palsu dan tidak ditulis seperti yang telah diakui ditulis pada tahun 600 SM, tetapi menurut mereka sebenarnya kitab ini ditulis pada tahun 165 SM. Dan semua nubuatan agung dalam Kitab Daniel pada kenyataannya lebih berhubungan dengan penulisan kembali sejarah walaupun kitab itu adalah kitab nubuatan. Seluruh akademisi, dunia liberal, tanpa terkecuali, percaya bahwa Kitab Daniel adalah dokumen gadungan dan palsu.
Tetapi Tuhan Yesus, dalam Injil Matius 24 akan berbicara tentang Daniel sebagai seorang nabi, nabi besar yang menyampaikan apa yang Allah nyatakan tentang kesudahan zaman yang akan datang. Itu cara Yesus memandang Alkitab.
Lagi. Saya tidak yakin jika ada teolog liberal di dunia yang tidak mengejek dan mentertawakan ide bahwa Yunus pernah ditelan ikan besar. Bagi mereka ini hanyalah lelucon. Dan ketika Anda membaca tulisan-tulisan mereka, fakta seperti itu dapat merusak pikiran yang masih lemah dan belum dewasa imannya.  
Tetapi bagi Tuhan Yesus, seperti yang tertulis dalam Injil Matius 12, Ia mendasarkan fakta kebangkitan-Nya yang agung di atas keluarnya Yunus dari perut ikan paus. Itulah cara Tuhan Yesus menghargai Alkitab.
Saya ingat suatu kali, saya duduk mendengarkan khotbah Lee Scarborough, Rektor Southwestern Seminary dan dia adalah salah satu hamba Allah yang luar biasa. Dan ia pernah berbicara tentang kisah Yunus. Dan ia berkata suatu kali anak lelakinya yang masih kecil pulang dari sekolah Minggu dan berkata, “Ayah, saya telah mendengarkan sebuah cerita di Sekolah Minggu pagi ini yang saya belum bisa percaya.”
Dr. Scarborough berkata, “Baiklah, nak, apa itu?”
Dan anak kecil itu berkata, “Yah, cerita tentang seseorang yang bernama Yunus, dan bahwa ia ditelan oleh ikan besar, dan bahwa ia hidup di dalam perut ikan besar itu selama tiga hari, dan kemudian ikan itu memuntahkannya keluar, dan ia masih hidup. Dan saya tidak bisa percaya hal seperti itu.”
Sehingga sang ayah itu, Dr. Scarborough, memanggil anak itu untuk duduk di sampingnya dan berkata, “Baiklah, nak, marilah ke sini, duduk di sini, kita akan pelejari bersama, karena saya juga memiliki kesulitan dengan cerita Yunus.
Kemudian mereka duduk bersama dan pengkhotbah besar itu berkata kepada anaknya itu, “Sekarang, kamu katakan, apa sebenarnya masalahmu?”
Dan si anak itu berkata, “Yah, Ayah, saya tidak bisa percaya hal seperti itu, bahwa ikan besar itu menelan orang yang bernama Yunus, dan ia hidup di dalam perut ikan itu selama tiga hari, dan kemudian ikan itu memuntahkannya dan orang itu masih hidup. Saya tidak bisa mempercayainya.”
Dan pengkhotbah besar itu berkata, “Baiklah, nak, saya juga memiliki masalah yang sama dengan cerita ini, hanya saja masalah saya sedikit berbeda dengan masalah kamu. Apa yang saya tidak dapat mengerti adalah bagaimana Tuhan dapat menciptakan manusia itu. Saya tidak mengerti itu. Dan saya tidak mengerti bagaimana Tuhan bisa menciptakan ikan besar itu. Saya tidak dapat memahami itu. Jika saya dapat memahami bagaimana kok Allah bisa menciptakan manusia dan ikan besar itu, maka akan menjadi lebih mudah bagi saya untuk memahami bagaimana Ia dapat mempertemukan mereka.”
Bagi Yesus, mujizat Allah yang luar biasa itu adalah sesuatu yang sewajarnya dan ketika Anda melihat sekeliling Anda, jika Anda mau melihat dengan pikiran tidak memihak, Allah menandai nama-Nya pada segala sesuatu bahwa Ia melakukan: “mujizat, hal-hal supranatural, hal-hal yang tak dapat dijelaskan.” Kita tidak mengerti apapun atau kita tidak dapat menjelaskan apapun.  Kita hanya mengobservasinya dan heran. Dan jika Anda berpikir bahwa Anda orang Kristen, tunduklah dalam hadirat sang Pencipta yang agung dan pujilah nama-Nya, itulah Yesus.
Lihat kembali sikap Tuhan kita terhadap Firman Allah ketika Ia berkata, “Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota (ini adalah huruf yod) atau satu title pun (ini adalah tanduk pada huruf ‘t’, tetalphabet Ibrani), “tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.”  (Matius 5:18).
Ini adalah pernyataan yang sangat mengejutkan! Langit dan bumi ini mungkin saja lenyap, hancur, terbakar, namun Firman Allah akan tetap ada untuk selama-lamanya. Ini lah alasan saya mengapa menyukai ayat favorit saya ini: “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.” Itulah cara Tuhan Yesus memandang Alkitab.


YESUS BERKHOTBAH DARI ALKITAB

Pandanglah Tuhan kita kembali, dalam sikap-Nya, dalam cinta-Nya terhadap Firman Allah. Ia datang untuk berkhotbah. Jika saya dapat mengutip Injil Markus, Ia datang berkhotbah dengan Alkitab di tangan-Nya. Dalam perikop yang indah yang Anda baru baca, Ia memulai pelayanan Mesianik-Nya di sana di Nazaret di tempat di mana Ia tumbuh besar, seperti kebiasaan-Nya, Ia pergi ke sinagog. Dan kelihatannya, seperti kebiasaan-Nya, Ia menyampaikan kepada mereka berita dari Tuhan.
Tidak akan senangkah Anda bila berada di gereja pada waktu itu, memuji Tuhan, dan mendengarkan pengkhotbah yang adalah Yesus dari Nazareth? Dan Ia membuka gulungan kitab Yesaya 61:1-2, dan kemudian Ia mengkhotbahkannya kepada orang-orang yang ada di sana dengan Alkitab di tangan-Nya. Itulah Yesus. 
Dan ketika Ia menyampaikan khotbahnya Ia membuat aplikasi khotbah itu tentang bagaimana Allah menyembuhkan para tawanan dan hati yang terluka, Ia berbicara tentang kasih Tuhan untuk seluruh dunia. Itu adalah Anda, kita semua.
Dan Ia memberikan ilustrasi dari Alkitab di zaman Elia dan bencana kelaparan yang mengerikan. Ia mengutusnya ke Sarfat, kepada janda di Sidon, kepada penyembah berhala. Dan Ia memberikan ilustrasi lagi. Pada zaman Elisa, Naaman, orang Syria, penyembah berhala yang mengalami sakit kusta. Itulah cara Yesus menyampaikan Firman.
Dalam Matius 12, Ia berbicara tentang Ratu Syeba yang datang untuk melihat hikmat Salomo. Dan kemudian mengimplikasikan, “Ada yang lebih besar dari Salomo di sini.” 
Dalam Yohanes 3:14-15, Ia menggunakan kisah yang indah tentang ular yang ditinggikan di padang gurun, sehingga orang yang digigit dan sekarat dapat melihat ular yang ditinggikan itu dan menjadi sembuh dan hidup. Dan Ia berkata, “Demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Tak ada sedikitpun syarat kecuali hanya percaya dan kemudian beroleh hidup. Cara ini sangatlah sederhana bagi orang yang mau meresponinya.
Atau dalam Injil Yohanes 6: Ia adalah manna, makanan dari sorga, yang diturunkan dari sorga agar kita boleh memakannya dan hidup.  “Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun. Aku adalah manna itu, orang yang memakannya tidak akan pernah mati.” Itulah Yesus ketika menyampaikan Firman Allah.
Secara terus menerus Ia menggunakan Alkitab untuk memberikan peringatan. Dalam Lukas 10, ini berhubungan dengan Sodom dan Gomorah, kota-kota di lembah itu dan Tirus dan Sidon yang dihakimi oleh Tuhan Allah. Dalam Injil Lukas 17, Ia mengingatkan tentang Nuh dan penghukuman Allah pada zaman Air Bah. Ia juga mengingatkan tentang Lot, ketika kota-kota di lembah itu dihanguskan dengan api. Itulah cara Tuhan menyampaikan Firman. Alkitab.
Dan Ia menggunakan Firman Allah sebagai senjata dalam menghadapi serangan Setan dan para pemimpin Bait Allah yang sinis terhadap Dia dan yang sangat membenci Dia.
Firman Tuhan adalah senjata-Nya untuk menyerang dan bertahan (lihat Markus 12). Markus 12 mulai dengan kisah tentang para penggarap kebun anggur yang jahat yang ketika pemilik kebun anggur mengirim hamba-hambanya untuk mengambil uang sewa: Namun mereka memukuli hamba-hamba itu dan membunuh mereka. Kemudian pemilik kebun anggur ini mengirim anaknya. “Mereka mungkin akan menghormati anaknya.” Ternyata mereka juga membunuh dan melemparkannya keluar dari kebun itu.
Catatan Editor: Demikianlah dengan jelas Yesus memberi kesaksian bahwa Alkitab Firman Allah. Dan Ia bukan hanya memberi kesaksian itu, namun Ia juga sangat menghargai Firman Allah dan selalu menggunakan Firman Allah yang menjadi dasar pengajaran-Nya dan dasar untuk menyerang serta melawan para pengritik Firman Allah.


KESAKSIAN ALKITAB UNTUK DIRINYA SENDIRI


KESAKSIAN ALKITAB UNTUK DIRINYA SENDIRI
(The Witness of the Word to Itself)

Oleh Dr. W.A. Criswell
Diadaptasi oleh Dr. Eddy Peter Purwanto

“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.”
“Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:12-13)

Secara praktis mustahillah menghitung banyaknya kejadian dalam Alkitab ketika ia menyebut dirinya sendiri adalah Firman Tuhan – deskripsi-deskripsi dari Firman Tuhan.
Dalam Mazmur 119, Mazmur terpanjang, pasal yang paling panjang dalam Alkitab, memiliki 176 ayat.  Dan ini adalah aliteratif (memiliki huruf awalan yang sama) dari Kitab Mazmur. Ada  22 huruf dalam alfabet Ibrani. Dan delapan ayat pertama dimulai dengan huruf āleph, huruf pertama dalam Alfabet Ibrani. Kemudian delapan ayat berikutnya dimulai dengan huruf bēth, dan ayat selanjutnya, gimel, kemudian kata berikutnya dāleth, dan begitulah sampai dengan 22 huruf alfabet Ibrani.
Dan di dalamnya, dari semuanya yang berjumlah 176 itu,  dua di antaranya berhubungan dengan Firman Allah. Beberapa darinya telah kita pelajari sejak kita masih kanak-kanak. Mazmur 119:11: “Dalam hatiku aku menyimpan firman-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau” [cetak tebal dalam KJV].

Ayat 89, “Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu tetap teguh di sorga.”
Ayat 105, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

Dan juga seluruh Mazmur menekankan, menjelaskan, mempresentasikan Firman Allah. Dan ini adalah bentuk typical dari seluruh Alkitab – kesaksian Firman Allah untuk dirinya sendiri. 
Misalnya, Yesaya akan berbicara tentang keseluruhan Firman Allah. Dalam Yesaya 55:11, “Firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.”
Atau kuasa dari Firman Allah seperti yang Yeremia katakan dalam Yeremia 23:29, “Bukankah firman-Ku seperti api, demikianlah firman TUHAN dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu?”
Tuhan Yesus membandingkan Firman-Nya yang kekal dalam Matius 24:35, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”
Dalam Yohanes 10 Tuhan berfirman, “Kitab Suci tidak dapat dibinasakan.”
Paulus berbicara tentang ini sebagai nafas Allah, ini adalah inspirasi. Dalam 2 Timotius 3:16, “Karena seluruh Kitab Suci diberikan melalui inspirasi Allah” (KJV). Ini adalah “nafas Allah,” theopneustos, nafas Allah ada di dalamnya.
Alkitab menutup dalam Wahyu 22:18-19: kita tidak boleh menambah atau menguranginya. Ini adalah kesaksian Firman Allah untuk dirinya sendiri.
Allah hidup di dalam Kitab Suci. Roh Kudus bergerak di dalam Alkitab. Yesus Kristus hidup di dalam Kitab Suci. Keduanya disebut “Firman Allah.” Firman yang berinkarnasi adalah Tuhan Yesus, Firman tertulis adalah Kitab Suci – keduanya adalah Firman Allah.
Ketika kita mengagungkan yang satu, kita memuliakan yang lain. Allah mengendarai atau di dalam Firman-Nya sama seperti mengendarai atau di dalam kereta perang.
Dalam semua perikop Alkitab, ada banyak deskripsi yang jelas tentang dirinya sendiri,  itu sangat tajam dan dinamis dan deskripsi yang penuh seperti perikop yang akan kita eksegesis sekarang ini adalah:

“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.”
“Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.”


FIRMAN ALLAH ADALAH HIDUP

Jadi Firman Allah adalah hidup (zōn). Ini adalah bentuk present partisif dari kata  zaō (“hidup” atau “to live”). Kata Yunani untuk “kehidupan” atau “life” adalah  zōē. Kita memperoleh kata “zoology” dari kata ini, yaitu ilmu yang mempelajari tentang mahkluk hidup.
 Zōn, “Sebab Firman Allah adalah hidup.” Firman Tuhan memiliki kehidupan di dalamnya. Ini adalah  zōē itu sendiri. Firman Tuhan karya mujizat dalam jiwa. Firman Allah adalah hidup.
Firman Allah adalah hidup di dalam dirinya sendiri yang tidak dapat dibinasakan. Ini seperti Allah sendiri, ia hidup untuk selama-lamanya. Jika Firman Allah dikubur di bawah reruntuhan batu oleh higher criticism (para pengkritik latar belakang Alkitab), firman itu akan mengendalikan dirinya sendiri. Ia sendiri akan menyingkirkan reruntuhan itu, seperti Anda akan membongkar kepah dari kapal yang besar, dan firman itu akan muncul dari tumpukan reruntuhan yang menguburnya.
Jika Firman Allah dilemparkan ke dalam api, ia akan berjalan keliling, dan bau asap tidak akan melekat pada pakaiannya. 
Jika Firman Allah disobek-sobek menjadi seribu potongan dan kemudian disebarkan, setiap potongan dan sobekan itu akan hidup di dalamnya sendiri dan menghasilkan buah seratus kali lipat.
Jika Firman Allah di muka bumi ini dihancurkan, jika setiap Alkitab di bumi ini dibakar, Alkitab dapat diproduksi kembali dari literatur dan catatan-catatan dari umat-Nya.
Jika Alkitab di muka bumi ini dihancurkan, dan bahkan bumi juga dihancurkan, jika seluruh ciptaan dihancurkan, malaikat di sorga dapat menulis kembali Firman Allah.
Mazmur 119:89, “Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu tetap teguh di sorga.” Para malaikat dapat mereproduksi kembali firman Allah jika seluruh ciptaan dimusnahkan.
Firman Allah yang suci bukan hanya hidup dan tak terbinasakan, tetapi ia juga adalah arus. Ia tetap segar. Ia tetap penting. Ia tetap modern. Ia dapat diaplikasikan dalam setiap generasi, di segala abad dan millennium.
Salah satu hal yang Anda akan temukan jika Anda belajar filsafat adalah bahwa ada mode di dalam pikiran. Manusia berpikir mengikuti patterns yang pasti. 
Ketika Anda membaca buku-buku tentang kisah sejarah filsafat, Anda akan menemukan bahwa ada jalan pemikiran yang pasti yang sangat popular di era-era tertentu. Dan kemudian mereka segera ketinggalan zaman dan kehilangan vitalitas dan kegunaannya. 
Mereka timbul dan tenggelam seperti ombak lautan. Manusia berpikir seperti pakaian, ini seperti kain: jika sudah tua dan kusut kita akan membuangnya. Sejarah pemikiran manusia seperti daun-daun di musim gugur yang jatuh ke tanah dan binasa.
Tetapi Firman Allah begitu berbeda! Seperti ayat kesukaan saya, Yesaya 40 ayat 8, “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya."
Ini adalah kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita ketika Ia berbicara kepada kita dan mewahyukan dirinya sendiri dalam Kitab yang kekal dan tak bisa berubah ini. Firman Allah selalu  hidup dan segar dan cocok dan berkaitan serta mengalamatkan dirinya sendiri kepada zaman kita hari ini.
Jika setiap tetes dari Samudera Pasifik menjadi kering dan berubah menjadi danau-danau mati, Kitab ini akan terus menerus mengeluarkan mata air kehidupan.
Jika granit besar, yaitu gunung batu berapi yang disebut Sierra Nevada akhirnya berubah menjadi tumpukan debu, Kitab ini akan terus menjadi batu zaman yang teguh.
Jika bintang-bintang meredup dan kehilangan sinarnya, Kitab ini akan terus menerangi dunia. 
Dan jika waktunya tiba, ketika setiap unsur atom dari ciptaan ini meleleh oleh karena panas yang luar biasa, Kitab ini akan tetap menjadi saksi kedatangan langit dan bumi yang baru.
Ini adalah Firman Allah yang kekal dan tidak berubah. “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” Ini adalah zōn. Ini adalah hidup.


FIRMAN ALLAH PENUH KUASA

Deskripsi kata kedua yang digunakan adalah energēs, diterjemahkan “kuat” atau “penuh kuasa.” Kita mengambil kata ini dan di-spell dalam bahasa Inggris menjadi “energy.”  Firman Allah adalah energēs, ia aktif, ia bergerak. Ia hidup, ia dinamis, ia penuh kuasa.
Paulus menulis kepada anaknya dalam pelayanan dalam 2 Timotius 2:9, Paulus berkata, “Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu.”
Firman Allah lebih perkasa dari Samson yang perkasa. Ia lebih kuat dari kekuatan beberapa Hercules. Ia lebih super dari pada Superman. Ia lebih kuat dari Incredible Hulk. Ia meruntuhkan setiap belenggu.  Ia melompati setiap dinding penjara. Ia melampaui setiap pegunungan, dan ia  menjangkau setiap pulau terkecil di tengah lautan. Ia adalah energēs.  Ia penuh kuasa.
Dan ketika Firman Allah dikhotbahkan, ketika ia disampaikan dalam pengurapan Roh Kudus, ia menjadi mahakuasa, seperti pada mulanya Roh Allah melayang-layang di atas air dan Tuhan Allah berfirman kepada gelap, “Jadilah terang,’ dan terang itu pun jadi.  
Firman Allah menyadarkan kita. Ia mempertobatkan kita, ia menyucikan jiwa kita. Firman Allah  menegur dan memukul saya.
Firman Allah menangis bersama saya. Ia membawa kabar pengharapan Injil bagi saya. Ia menopang tangan saya. Ia menghibur. Ia bernyanyi untuk saya. Ia berkhotbah untuk saya. Ia memimpin saya kepada Yesus. Ia mempertobatkan jiwa saya. Ia menyelamatkan hidup saya. Dan ia memberikan jaminan kepada saya tentang pengharapan di Sorga.
Firman Allah adalah energēs. Ia dinamis. Ia penuh kuasa. Ia bukan hanya zōn (hidup) dan bukan hanya energēs (kuat atau penuh kuasa), tetapi ia juga adalah tomōteros.


FIRMAN ALLAH ITU TAJAM

Kata Yunani untuk “memotong” adalah tomos. Itu adalah asal kata dari kata atomos (atom). Dulu orang Yunani berpikir bahwa hal terkecil dari dunia yang tidak dapat dipotong adakan atomos. Tomos, “memotong,” ‘a’adalah alpha-privitive. Jadi atomos berarti tidak dapat dipotong.
Kemudian bentuk komparatif dari kata ini dalam bahasa Yunani selalu terostomōterostomōteros, yang diterjemahkan di sini, “lebih tajam.” Temnō adalah kata untuk “memotong.”
Firman Allah adalah zōn. Ia hidup. Ia adalah energēs: ia penuh kuasa. Ia  adalah tomōteros: ia lebih tajam.
Kata Yunani untuk “dua” adalah dis, dan stoma adalah “mulut.” Jadi secara literal ini berarti “dua mulut.” Kata ini diterjemahkan, “pedang bermata dua.”
Kata ini digunakan dua kali dalam Alkitab, di sini dan di dalam Wahyu 1:16 ketika pemuliaan Tuhan kita dideskripsikan sebagai pedang bermata dua yang keluar dari mulut-Nya. Firman Allah adalah pedang bermata dua. Ia memisahkan apapun.
Ketajaman Firman Allah itu membinasakan. Ia memiliki kekuatan memisahkan, ia memotong berkeping-keping apa yang harus dipotong berkeping-keping. Dan ia membawa kepada kehidupan dalam kuasa yang menghidupkan apa yang harus dibawa kepada kehidupan.
Firman Allah menembus kita sampai ke dalam pikiran-pikiran kita dan dalam hidup kita dengan menebang apa yang harus ditebang dan memotong apa yang harus dipotong, seperti Agag yang dipotong-potong oleh Samuel di hadapan Tuhan.
Tetapi ia juga hidup. Ia memiliki kekuatan memberikan kehidupan, sama seperti Saulus dalam perjalanan ke Damsyk, atau orang-orang Berea yang menyelidiki Kitab Suci setiap hari, “untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.” 
Kata tomōteros, kuasa memotong atau memisahkan dari Firman Allah adalah mujizat di dalam dirinya sendiri.
Dalam bacaan saya, dalam persiapan saya untuk khotbah ini atau bab ini, pikiran saya menyeberang ke orang Kristen yang agung di Inggris. Namanya adalah Thorpe, dan ia tinggal di Bristol. Ia adalah orang yang sangat brilian, orang yang memiliki kemampuan intelek luar biasa.
Dan pada zaman itu banyak orang akademisi yang menjadi skeptis dan tidak ada iman di dalam hati dan roh mereka. Dan orang ini memiliki club yang disebut Hell Fire Club. Club ini adalah kumpulan orang-orang tidak beriman yang selalu mengejek dan mentertawakan segala sesuatu tentang Tuhan.
Buku yang saya baca menjelaskan bahwa Thorpe adalah orang Kristen yang luar biasa dan saksi yang agung bagi Kristus dan pemenang jiwa yang luar biasa.
Sebelumnya ia adalah orang yang tidak beriman dan pada suatu kesempatan Thorpe pergi mendengarkan khotbah George Whitefield.  George Whitefield adalah, menurut saya, salah satu pengkhotbah terbesar di segala masa. Diperkirakan ia mungkin telah berbicara di depan 20,000 sampai 30,000 orang dan dapat membuat mereka semua menangis.
Benjamin Franklin pernah pergi mendengarkan khotbah George Whitefield. Dan ia mendengar bahwa George Whitefield pengkhotbah yang penuh kuasa. Dan Franklin berkata kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan memberikan persembahan apapun dalam acara kebaktian ini. Oleh sebab itu Benjamin Franklin berkata bahwa ia meninggalkan semua uangnya di rumah  ketika ia pergi untuk mendengarkan George Whitefield  yang mengajak untuk membantu panti asuhannya, itu disebabkan karena ia tidak mau memberikan kepadanya persembahan. Ia tidak mau membawa apa pun, karena itu ia meninggalkan semua uangnya di rumah.
Demikianlah Benjamin Franklin berdiri di sana dan mendengarkan khotbah George Whitefield. Dan oleh karena kefasihan bicara pengkhotbah yang luar biasa ini, ia menoleh ke orang yang duduk di sebelahnya, yang bahkan tidak ia kenal dan berkata, “Tuan, pinjamkan saya beberapa uang yang saya dapat berikan untuk pengkhotbah ini.”
Itulah George Whitefield.  George Whitefield adalah pemimpin Kebangunan Rohani di Amerika, sama seperti di Inggris  oleh temannya yaitu John Wesley.
George Whitefield menyampaikan khotbahnya dengan begitu fasih. Mereka menggambarkan dia seperti orang yang dapat berdiri dan mengulangi kata orang Mesopotamia dan membuat pendengarnya menangis ketika ia mengucapkan sepatah kata saja. Saya percaya bahwa harus ada sesuatu dalam nada suaranya dan gaya berkhotbah, sehingga khotbah George Whitefield begitu menggerakkan hati orang.
Thorpe ini pergi untuk mendengar George Whitefield berkhotbah. Orang ini sangat intelek dan mudah faham, dan setelah itu, ketika ia kembali ke Hell Fire Club-nya, ia berpikir bahwa ia harus melakukan sesuatu dengan cerdas. Ia berdiri di sana di depan orang-orang itu, orang-orang yang tidak beriman itu, dan menyampaikan khotbah George Whitefield kepada mereka. Dan ia melakukannya dengan intonasi dan gaya serta ekspresi yang sama seperti yang dilakukan oleh George Whitefield.
Dan di tengah-tengah khotbahnya dari khotbah George Whitefield dari Kitab Allah itu, seorang laki-laki terduduk dan menangis tersedu-sedu dan mengakui imannya di dalam Tuhan Yesus, dan kemudian orang ini menjadi orang Kristen yang luar biasa yang mereka juluki sebagai Thorpe of Bristol, di Inggris.
Itulah Firman Allah. Kuasanya dan ketajamannya adalah sesuatu yang ajaib untuk dilihat. 


FIRMAN ALLAH MENUSUK AMAT DALAM

Dan gambaran terakhir dari ini adalah “Ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum.” 
Kata Yunani untuk “through” adalah dia. Anda dapat menemukan kata ini ribuan kali dalam Alkitab bahasa InggrisDan kata Yunani untuk “to pass” adalah  ïkneomai. Jadi  diïkneomai berarti “to pass through,” atau “melewati, melalui” dan di sini diterjemahkan “pierce” [dalam KJV] atau “menembus.” 
Ini adalah ide yang sama seperti pisau belati atau pedang tipis yang tajam. Pedang  adalah alat pemotong yang tajam. Dan Firman Allah digambarkan di sini sebagai yang menusuk, pedang tipis tajam yang menembus amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sunsum. Dan menurut saya, “memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum” adalah gambaran puitis dan amat efektif.
Saya telah membaca 1 Raja-Raja 21 dan 22. Yang pertama dari pasal-pasal ini Anda dapat menemukan kisah tentang kebun anggur Nabot, ketika Izebel berkata kepada Ahab, “Bangunlah, Nabot sudah mati.” Ia telah dilempari batu sampai mati. 
Dan ketika Ahab datang ke kebun anggur Nabot yang telah menjadi miliknya itu, di sana datanglah Elia hamba Allah, yang menemuinya dan berkata, “Di tempat anjing telah menjilat darah Nabot, di situ jugalah anjing akan menjilat darahmu."
Kemudian di pasal berikutnya Ahab dan Yosafat bersiap untuk pergi ke Ramot-Gilead untuk berperang. Dan Yosafat, hamba Allah dan raja yang baik itu berkata kepada Ahab, "Baiklah tanyakan dahulu firman TUHAN." Lalu Ahab mengumpulkan semua nabi dan mereka berkata, "Majulah! Tuhan akan menyerahkannya ke dalam tangan raja."
Dan Yosafat, ketika ia memperhatikan mereka, ia bertanya kepada Ahab, “Tidak adakah lagi di sini seorang nabi TUHAN, supaya dengan perantaraannya kita dapat meminta petunjuk?"
Dan Ahab berkata, “Masih ada seorang lagi. Tetapi aku membenci dia, sebab tidak pernah ia menubuatkan yang baik tentang aku, melainkan malapetaka.”
Yosafat berkata, "Janganlah raja berkata demikian. Jemputlah dia dengan segera!"
Kemudian Mikha hamba Allah itu datang, dan ia berkata kepada Ahab, “Engkau tidak akan kembali, dan seluruh Israel bercerai-berai di gunung-gunung seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala.”
Dan Ahab berkata, “Tangkaplah orang ini dan masukkan orang ini dalam penjara dan beri dia makan roti dan minum air serba sedikit sampai aku pulang dengan selamat."
Dan kemudian kisah selanjutnya, apakah Anda mengingatnya? Dalam peperangn itu, seseorang menarik anak panahnya, King James Version berkata, “at a venture” [atau dalam bahasa Indonesia ‘secara sembarangan saja’]. Seseorang menarik panahnya dan menembak dengan sembarangan saja dan mengenai raja Israel di antara sambungan baju zirahnya. 
Dan panah itu -- itu berhubungan dengan atau gambaran dari pedang tipis yang tajam dari Firman Tuhan – panah itu mengenai raja tepat di sambungan baju zirah Ahab, dan menembus jantungnya, dan darahnya mengalir dari lukanya ke palung keretanya.
Dan ketika mereka membawanya kembali ke Samaria, dan ketika mereka mencuci kereta itu, itu adalah tempat di mana anjing-anjing menjilati darah Nabot, dan di tempat itu juga anjing-anjing menjilati darah Ahab. Menembus, tajam, pedang tipis yang tajam seperti itulah ketajaman Firman Allah.
Kita tidak dapat menyingkirkannya. Kita tidak dapat menghindarinya. Kita tidak dapat menanggulanginya. Kita tidak dapat hidup lebih lama menghadapinya. Ia selalu ada di sana – tajam, menembus, hidup, itulah Firman Allah yang tidak pernah berubah.


FIRMAN ALLAH MENELANJANGI

Dan kemudian hal terakhir: Ia berbicara tentang Firman Allah sebagai yang, “Memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum, dan ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.”  
Firman Allah menelanjangi. Firman Allah memisahkan. Dan pemisahan ini, ketelanjangan ini, adalah terbuka bagi orang untuk melihatnya. Ini sangat terbukti dan nyata, perbedaan antara orang yang masih terhilang dan yang telah diselamatkan, antara orang yang telah bertobat dan belum bertobat, antara orang yang sungguh mengikut Tuhan dan bukan dapat dilihat oleh Firman Allah.
Ini begitu jelas, “sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab,” dan di hadapan mata dunia, mereka terlihat telanjang.
Saya tidak tahu  mana saja yang pernah Anda baca atau belum. Ini adalah file laporan oleh wartawan perang yang mengikuti tentara Amerika Serikat ketika mereka merebut dan menduduki Okinawa.
Apa yang terjadi di sana, sehingga wartawan perang ini berkata: 30 tahun sebelumnya di sana pernah dilewati oleh seorang Misionaris yang sedang dalam perjalanan menuju Jepang. Ia mampir di sana tetapi sebentar saja. Tetapi pada kesempatan itu ia mampir di perkampungan kecil di Okinawa yang bernama Shimabuku, ia memberitakan Injil di sana. Ia memenangkan dua orang bagi Kristus, dan memberikan kepada mereka sebuah Alkitab
Salah satu dari orang ini bernama Shosei Kina, dan ia menjadi kepala suku di perkampungan itu. Sedangkan yang satunya lagi bernama Mojun, dan ia menjadi kepala sekolah di desa itu.
Dan apa yang terjadi selama 30 tahun setelah ia memiliki Alkitab? Pertama, mereka membangun sekolah, dan Mojun adalah kepala sekolah itu. Ia adalah seorang guru. Dan mereka telah memiliki teks atau bahan pelajaran, yaitu Alkitab. Dan mereka mengajar Alkitab di sekolah itu. Mereka berdoa kepada Tuhan Yesus. Mereka menemukan Firman Allah dan kehendak Tuhan bagi hidup mereka. Mereka memiliki satu teks atau satu buku pelajaran saja, yaitu Alkitab.
Kita dapat memuji Yesus di sana. Kita dapat mengajar setiap subyek tentang Allah di dalam Kristus Yesus. Ini adalah sekolah Kristen. Ini adalah akademi Kristen, dan mereka telah memilikinya di Shimabuku, dan diajar oleh Mojun. Buku pelajaran yang mereka pakai adalah Alkitab.
Selain menjadi orang Kristen, Shosei Kina juga menjadi pemimpin di desa kecil itu. Ia memimpin rakyatnya ke jalan Tuhan. Kedua orang itu telah memenangkan setiap orang di desa itu untuk beriman di dalam Kristus. Mereka semua adalah orang Kristen, ya mereka semua. Dan mereka membangun pemerintahan kecil mereka berdasarkan Firman Allah.